Industri gim Indonesia kembali kedatangan proyek naratif yang menjanjikan lewat The Spirit Weaver, sebuah visual novel dengan sentuhan simulasi dan mekanik pembacaan Tarot. Gim ini dikembangkan oleh StarBullet Studio dan mendapat dukungan dari GameChanger Studio, studio yang sebelumnya dikenal lewat trilogi My Lovely.
Direncanakan rilis di platform Steam untuk PC, The Spirit Weaver menawarkan pengalaman bermain yang berfokus pada empati, interpretasi, dan konsekuensi pilihan pemain.
Dunia Roh yang Terancam Entropy
The Spirit Weaver membawa pemain ke sebuah Spirit Realm yang indah sekaligus mistis. Dunia ini tengah terancam oleh kegelapan misterius bernama The Entropy, kekuatan yang menyerap energi spiritual para penghuninya. Dampaknya tidak main main. Banyak roh melemah, terluka, bahkan kehilangan eksistensinya.
Pemain berperan sebagai seorang Tarot Reader yang dipanggil oleh Spirit Guides untuk membantu memulihkan keseimbangan. Alih alih bertarung secara fisik, pendekatan yang digunakan bersifat reflektif dan emosional. Pemain harus menemui roh roh yang terluka, memahami latar belakang serta konflik batin mereka, lalu memberikan bimbingan melalui pembacaan kartu Tarot.
Narasi yang diusung bersifat bittersweet. Cerita berfokus pada cinta, kehilangan, duka, dan bagaimana individu berusaha melangkah maju di tengah rasa putus asa. Setiap karakter memiliki idealisme dan kepribadian berbeda, sehingga pendekatan yang diambil pemain dalam membaca Tarot akan sangat menentukan hasil akhirnya.
Tarot sebagai Inti Gameplay



Berbeda dari visual novel konvensional, The Spirit Weaver menjadikan pembacaan Tarot sebagai mekanik utama. Sistem ini dirancang menyerupai praktik Tarot di dunia nyata. Tidak ada interpretasi yang sepenuhnya benar atau salah. Namun ada pembacaan yang lebih tepat dan lebih dalam dibandingkan yang lain.


Kualitas interpretasi pemain akan menentukan kondisi Spirit Realm serta ending cerita yang didapat. Pilihan yang diambil dapat membawa pemain pada beberapa kemungkinan akhir, mulai dari menyelamatkan dunia sekaligus seseorang yang berharga, kembali ke Bumi tanpa jawaban yang tuntas, hingga terperangkap selamanya di alam roh.
Pendekatan ini menjadikan empati sebagai fondasi gameplay. Pemain dituntut benar benar mendengarkan kisah setiap karakter dan memahami kondisi emosional mereka sebelum menentukan tafsir kartu.
Dikembangkan Lulusan ITB
StarBullet Studio merupakan tim yang terdiri dari enam lulusan baru Institut Teknologi Bandung yang bertemu dalam mata kuliah desain gim. Konsep The Spirit Weaver lahir dari proyek kerja kelompok mereka di kelas dan kemudian dikembangkan menjadi proyek komersial perdana.
Studio ini menargetkan pengalaman yang menggabungkan cerita kuat, visual yang memikat, serta pendekatan gameplay yang segar. The Spirit Weaver menjadi langkah awal mereka untuk membangun identitas sebagai pengembang yang berfokus pada pengalaman naratif.
Dukungan dari Kreator Trilogi My Lovely
Dukungan datang dari GameChanger Studio, pengembang independen asal Tangerang yang dikenal lewat trilogi My Lovely yang terdiri dari:
- My Lovely Daughter
- My Lovely Wife
- My Lovely Empress
GameChanger Studio dikenal menghadirkan tema gelap, emosional, serta mekanik yang tidak lazim dalam gim naratif. Saat ini mereka juga tengah mengembangkan 1998: The Toll Keeper Story, sembari mendukung pengembangan The Spirit Weaver.
Kolaborasi ini memberi sinyal bahwa The Spirit Weaver tidak hanya mengandalkan konsep menarik, tetapi juga mendapat arahan dari studio yang telah berpengalaman menembus pasar global.
Informasi Singkat
Genre: Visual Novel, Simulation, Narrative
Platform: Steam untuk PC
Tanggal Rilis: TBD
Dengan kombinasi tema spiritual, pendekatan empatik, dan sistem Tarot yang menentukan nasib dunia, The Spirit Weaver menjadi salah satu proyek visual novel lokal yang patut dipantau.
Bagaimana menurut kamu konsep visual novel berbasis Tarot seperti ini? Apakah mekanik interpretasi kartu bisa memberikan kedalaman emosional yang berbeda dibanding pilihan dialog biasa? Tulis pendapatmu di kolom komentar dan ikut berpartisipasi dalam diskusinya.

