Final Fantasy IX disebut memiliki basis penggemar yang lebih kuat di luar Jepang dibandingkan di negara asalnya. Hal tersebut diungkap langsung oleh Nobuo Uematsu, komposer legendaris seri Final Fantasy, dalam wawancara khusus bersama Famitsu untuk memperingati 25 tahun perilisan game tersebut.
Final Fantasy IX, seri utama ke sembilan dari waralaba JRPG ikonik milik Square, pertama kali dirilis untuk PlayStation pada Juli 2000. Meski awalnya hadir sebagai judul yang membawa seri kembali ke akar fantasi klasik, FF9 kini justru dikenang sebagai salah satu entri paling dicintai, terutama oleh penggemar internasional.
Lebih Diingat oleh Penggemar Internasional
Dalam wawancaranya, Uematsu menyebut bahwa respons penggemar luar Jepang terhadap FF9 terasa lebih kuat dibandingkan penggemar domestik.
“Setiap kali saya bepergian ke luar negeri, saya selalu merasa ada banyak penggemar Final Fantasy IX di sana. Dibandingkan orang Jepang, penggemar di luar negeri lebih sering menyebut FF9 sebagai seri favorit mereka,” ujar Uematsu.
Ia mengaku tidak sepenuhnya yakin apakah kembalinya FF9 ke latar fantasi abad pertengahan menjadi faktor utama popularitas tersebut. Namun, ia menduga soundtrack yang ia ciptakan untuk game ini memiliki peran besar dalam membentuk kesan mendalam bagi para pemain.
Soundtrack FF9 Masuk Favorit Pribadi
Menariknya, Uematsu mengungkap bahwa ia sebenarnya jarang merasa puas dengan karya musiknya sendiri. Bahkan, ia mengaku enggan mendengarkan lagu yang sudah selesai ia buat karena merasa malu dengan hasilnya.
“Begitu sebuah lagu selesai, saya tidak ingin mendengarkannya lagi. Rasanya memalukan. Tapi saat debugging, saya terpaksa mendengarkannya terus sampai akhirnya saya membencinya,” katanya sambil bercanda.
Meski demikian, Final Fantasy IX menjadi pengecualian. Uematsu menyebut banyak lagu dari FF9 yang masih ia sukai hingga sekarang, terutama dari sisi melodi dan progresi akor.
“Biasanya saya akan menemukan kekurangan seperti kualitas nada yang terasa datar atau aransemen yang kurang maksimal. Tapi untuk FF9, saya bisa berpikir, ya sudahlah, melodinya tidak buruk,” ujarnya.
Roses of May dan The Final Battle Jadi Favorit
Dari seluruh komposisi yang ia buat untuk FF9, Uematsu menyebut Roses of May sebagai lagu favoritnya. Lagu piano ini dikenal sebagai tema karakter General Beatrix, salah satu tokoh ikonik dalam cerita.
Selain itu, ia juga menyoroti The Final Battle, tema pertarungan terakhir di FF9. Lagu tersebut memiliki konsep unik yang melibatkan suara-suara menyerupai arwah.
“Saya ingin ada suara orang-orang yang sudah mati di lagu itu, jadi saya bilang ke programmer synthesizer kami, Keiji Kawamori, untuk pergi ke neraka dan merekamnya. Dia menjawab, oke, dan keesokan harinya dia membawa trek yang luar biasa,” kenang Uematsu.
Kembali ke Fantasi Abad Pertengahan
Pendekatan “kembali ke dasar” yang diusung Final Fantasy IX juga menjadi pengalaman menyenangkan bagi Uematsu, terutama setelah beberapa seri sebelumnya lebih menonjolkan nuansa fiksi ilmiah.
“Saya sangat senang saat tahu FF9 akan kembali ke sesuatu yang lebih medieval. Bagaimanapun juga, saya ini otaku abad pertengahan,” katanya sambil tertawa.
Untuk mendalami nuansa tersebut, Uematsu bahkan melakukan perjalanan ke Eropa bersama istrinya. Ia mengunjungi berbagai kastel tua sebagai referensi visual dan atmosfer untuk soundtrack FF9.
“Saya pikir cara terbaik adalah memahami seperti apa Eropa abad pertengahan. Jadi kami ikut tur kastel-kastel tua. Tapi di sana dipenuhi mahasiswa, dan kami satu-satunya orang tua. Cukup melelahkan,” ujarnya berseloroh.
Warisan Abadi Final Fantasy IX
Dua puluh lima tahun sejak perilisannya, Final Fantasy IX tetap dikenang sebagai salah satu seri paling emosional dan musikal dalam sejarah Final Fantasy. Pengakuan Nobuo Uematsu ini menegaskan bahwa FF9 bukan hanya dicintai oleh penggemar, tetapi juga memiliki tempat khusus di hati sang komposer yang membentuk identitas musikal seri tersebut selama puluhan tahun.

