Black Myth: Wukong Dorong Lonjakan Pariwisata di Provinsi Shanxi

Black myth wukong king keyart

Kesuksesan Black Myth: Wukong ternyata tidak hanya berdampak besar pada industri game, tetapi juga memicu lonjakan signifikan di sektor pariwisata Tiongkok. Hal ini diungkap dalam China Game Industry Annual Conference 2025, di mana para pelaku industri membahas efek budaya yang ditinggalkan oleh action RPG besutan Game Science tersebut.

Dirilis pada 2024, Black Myth: Wukong dianggap sebagai game blockbuster AAA pertama dari Tiongkok. Game ini berhasil terjual lebih dari 20 juta kopi dalam satu bulan, sekaligus membuka jalan bagi proyek-proyek domestik lain seperti Phantom Blade Zero, yang dilaporkan mendapat tambahan pendanaan pasca kesuksesan Wukong.

Image

Menurut laporan yang dibagikan di konferensi dan dikutip oleh 4Gamer, Provinsi Shanxi yang menjadi inspirasi banyak lokasi dalam game mengalami lonjakan jumlah wisatawan secara drastis. Fenomena ini bahkan dijuluki sebagai “player to tourist conversion” di Tiongkok.

Dari total 36 lokasi nyata yang ditampilkan dalam Black Myth: Wukong, 27 di antaranya terinspirasi langsung dari situs sejarah dan warisan budaya Shanxi. Qingping Gao, CEO salah satu organisasi pariwisata Shanxi, mengungkapkan bahwa pendapatan tiket situs bersejarah melonjak hingga lebih dari 160 juta yuan (sekitar USD 22,7 juta) hanya dua bulan setelah game dirilis.

Dampak tersebut juga merembet ke sektor lain, termasuk akomodasi, kuliner, transportasi, dan ritel, yang turut mengalami pertumbuhan signifikan. Popularitas game ini tidak hanya terjadi di ruang digital, tetapi menjadi pemicu nyata bagi kunjungan wisata.

Data yang dipresentasikan menunjukkan bahwa pencarian daring untuk kata kunci “Shanxi tourism” meningkat lebih dari 3.178% secara tahunan, dengan konten terkait meraih lebih dari 40 miliar penayangan di media sosial. Gao menekankan bahwa respons cepat dari pemerintah daerah dan institusi pariwisata dalam merancang kebijakan berbasis budaya game menjadi faktor kunci keberhasilan ini.

Selain pariwisata, dampak budaya Black Myth: Wukong juga terlihat melalui pameran seni resminya di Art Museum of China Academy of Art, Hangzhou. Pameran yang awalnya dijadwalkan berlangsung selama 40 hari tersebut akhirnya diperpanjang menjadi 108 hari karena tingginya minat pengunjung.

Meski jumlah pengunjung dibatasi sekitar 4.000–6.000 orang per hari, pameran ini tetap mencatat total 450.000 pengunjung. Menariknya, sekitar 80% pengunjung berusia di bawah 18 tahun, dan lebih dari separuhnya mengaku baru pertama kali mengunjungi pameran seni.

Kurator pameran, Xuejun Xuan, menilai fenomena ini sebagai contoh bagaimana IP video game mampu menjembatani budaya populer dengan institusi seni, sekaligus membuat ruang publik seperti museum menjadi lebih inklusif dan mudah diakses oleh generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.