Kembali ke Kota yang Pernah Hidup
Pada 17 Agustus 2025, Cakrapolis Eksplorasi diterbitkan kembali oleh Creativ Media dan diperkenalkan di acara KOMPAK (Komikus Pamer Karya) di Jakarta. Karya ini didasarkan pada komik Cakrapolis ciptaan Andris Halim, yang pertama kali terbit di Harian Kompas pada 25 Maret 2013. Komik ini bercerita tentang para pahlawan dari kelompok Cakrapolis Air Force yang berjuang mencari artefak berenergi tak terhingga untuk menghidupkan kembali kota mereka yang hancur.
Versi Eksplorasi disusun oleh komikus PapaPhin (Harwanto Santoso) berdasarkan karya asli Andris Halim. Dalam versi terbaru ini, PapaPhin mempertahankan semangat cerita yang sama: perjuangan, tanggung jawab, dan harapan terhadap kota yang runtuh, tetapi menyajikannya dengan pendekatan visual yang lebih modern.
Kota Cakrapolis tetap menjadi pusat cerita. Ia digambarkan sebagai simbol peradaban manusia yang rapuh tetapi berusaha hidup kembali. Pencarian artefak oleh Cakrapolis Air Force bukan sekadar petualangan, melainkan upaya memahami makna kehidupan dan sumber energi yang sesungguhnya.
Kembalinya Cakrapolis pada tahun 2025 tidak hanya menghidupkan kisah lama, tetapi juga memperlihatkan keberlanjutan semangat komik Indonesia yang sempat dikenal di panggung internasional. Komik ini pernah menjadi wakil Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 dan dipresentasikan di berbagai pameran di Eropa serta Asia. Kini, dengan format baru, Cakrapolis Eksplorasi menjadi jembatan antara generasi pembaca lama dan baru.
Akar Cerita yang Tetap Kuat
Dari segi narasi, Cakrapolis Eksplorasi tidak mengubah inti kisah yang dibuat Andris Halim. Para pahlawan Cakrapolis Air Force masih berfokus pada misi mereka menemukan artefak berenergi tak terbatas. Namun, PapaPhin menekankan sisi eksplorasi dan refleksi. Cerita bergerak lebih tenang dan memberi ruang bagi pembaca untuk mengenali kota serta warganya.

Cakrapolis sendiri tampil sebagai kota yang pernah maju tetapi hancur karena penyalahgunaan teknologi dan kekuasaan. Artefak yang mereka cari menjadi simbol harapan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Dalam versi baru ini, PapaPhin memperlihatkan bahwa yang mereka cari bukan hanya energi fisik, tetapi juga kekuatan moral yang hilang.
Setiap karakter di dalamnya mewakili sisi manusia yang berbeda. Ada yang percaya pada sains, ada yang berpegang pada keyakinan, ada pula yang kehilangan arah. PapaPhin tidak menambahkan karakter baru yang mencolok, tetapi memberi kedalaman lebih pada karakter yang sudah ada. Dialognya tidak panjang, namun cukup kuat untuk menunjukkan beban dan tujuan masing-masing tokoh.
Dengan gaya penyampaian yang lebih tenang, Cakrapolis Eksplorasi terasa lebih reflektif daripada versi aslinya. Ia tidak hanya menunjukkan perjuangan melawan kehancuran kota, tetapi juga usaha manusia untuk memahami dirinya sendiri di tengah dunia yang berubah.
Gaya Gambar: Dari Strip Ringkas ke Tata Panel Sinematik
Perbedaan paling menonjol antara versi 2013 dan Eksplorasi terletak pada gaya gambarnya. Versi asli Cakrapolis yang tayang di Harian Kompas berbentuk strip hitam putih dengan tata panel sederhana. Setiap panel dibuat agar langsung bisa dibaca dalam satu kali pandang. Gaya Andris Halim cenderung efisien, garisnya bersih, anatominya proporsional, dan fokus pada kejelasan cerita.

Versi Eksplorasi tetap menggunakan format hitam putih, tetapi PapaPhin memperluas pendekatannya. Ia menata panel dengan cara yang lebih bebas dan dinamis. Ada halaman yang menggunakan panel lebar untuk menampilkan pemandangan kota, dan ada pula yang memecah aksi menjadi potongan kecil agar ritmenya terasa cepat.

Karena dicetak dalam bentuk buku penuh, PapaPhin bisa bermain dengan komposisi ruang. Ia menggunakan bidang putih sebagai jeda, memberi napas di antara adegan, lalu menutupnya dengan benturan hitam pekat untuk menegaskan momen penting. Permainan kontras inilah yang menggantikan fungsi warna dalam komik modern.
Teknik arsiran menjadi ciri khas visualnya. PapaPhin menggunakan kombinasi goresan halus dan sapuan tinta tebal untuk membentuk kedalaman. Bayangan dan pencahayaan digunakan bukan sekadar untuk realisme, melainkan untuk memperkuat suasana. Adegan malam digambar dengan area gelap dominan, sementara adegan siang menggunakan garis tipis dan ruang kosong yang luas. Semua dilakukan tanpa warna, tetapi tetap mampu menimbulkan nuansa dan ritme.
Gaya ini membuat Cakrapolis Eksplorasi terasa lebih hidup dibanding versi strip. Ia tetap menjaga identitas hitam putih khas komik Indonesia, tetapi dengan tata panel yang lebih matang dan ekspresif.
Kota yang Bernapas dan Tekstur Realitas
PapaPhin memberi perhatian besar pada detail kota. Dalam versi 2013, latar kota biasanya berupa siluet gedung atau garis sederhana untuk menunjukkan kedalaman ruang. Kali ini, setiap bangunan digambar dengan detail tekstur, seperti dinding retak, jembatan berkarat, kabel menjuntai, atau papan tanda yang setengah hilang. Semua detail ini memperlihatkan usia dan kerusakan kota, sekaligus memberi kesan bahwa Cakrapolis benar-benar pernah hidup.
Pendekatan visual ini membuat kota terasa seperti karakter itu sendiri. Ia tidak diam, tetapi memiliki jejak waktu. Melalui kontras antara area hitam dan putih, PapaPhin memperlihatkan lapisan kehidupan di dalam kota: ruang yang gelap dan padat mewakili masa lalu yang hancur, sedangkan bidang putih terbuka menandai sisa harapan.
Setiap sudut Cakrapolis digambar dengan perspektif yang terukur. Ada adegan pandangan dari udara yang memperlihatkan susunan kota seperti peta, dan ada juga adegan jarak dekat yang memperlihatkan alat, mesin, atau reruntuhan. Tidak ada gambar yang terasa generik; semuanya menunjukkan upaya untuk membuat dunia Cakrapolis konkret dan mudah diingat.
Tanpa menggunakan warna, PapaPhin mengandalkan bayangan dan kontras untuk menciptakan atmosfer. Misalnya, ia menggunakan sapuan tinta tebal untuk menunjukkan kehancuran, sementara garis putus halus untuk menandai cahaya. Teknik ini mengingatkan pada gaya ilustrasi klasik yang memanfaatkan cahaya dan gelap sebagai elemen utama narasi visual.
Gaya Ekspresi dan Gerak
Perbedaan lain yang jelas terlihat adalah cara karakter digambar. Andris Halim menggambarkan tokohnya dengan proporsi stabil dan gerak yang sederhana, menyesuaikan dengan format strip yang singkat. PapaPhin mempertahankan bentuk dasar karakter, tetapi membuat gerak mereka lebih dinamis.
Ia menggunakan garis aksi yang jelas dan mengatur arah pandangan agar pembaca mengikuti alur cerita dengan lancar. Gerak tubuh kini lebih lentur, ekspresi wajah lebih dalam, dan komposisi antar karakter lebih terukur. Saat adegan tenang, PapaPhin membiarkan ruang kosong lebih besar di sekitar karakter agar pembaca bisa merasakan suasananya. Sebaliknya, saat adegan tegang, panel dipenuhi garis cepat dan arsiran kuat yang memperkuat tensi.
Perubahan ini membuat Cakrapolis Eksplorasi terasa lebih sinematik tanpa kehilangan kesederhanaan khas komik hitam putih. Ia tidak menggunakan efek digital berlebihan, tetapi mengandalkan keseimbangan antara tinta, ruang, dan ritme bacaan.
Kesetiaan pada Identitas dan Tujuan
Meski tampil dengan gaya yang lebih modern, PapaPhin tetap menghormati karya asli Andris Halim. Ia tidak menambahkan unsur yang mengubah tema utama, dan tidak menurunkan nada heroiknya. Cakrapolis Eksplorasi masih menekankan semangat kolektif, bahwa pahlawan sejati bukan yang memiliki kekuatan super, tetapi mereka yang tetap berjuang meski kota mereka hancur.
PapaPhin juga mempertahankan kesan lokal dalam gambar. Walaupun Cakrapolis adalah kota fiksi futuristik, bentuk bangunan, rambu, dan kendaraan memiliki nuansa Asia Tenggara yang mudah dikenali. Ia tidak berusaha meniru komik Barat atau manga Jepang, melainkan membangun karakter visualnya sendiri dari kesadaran lokal.

Pendekatan seperti ini membuat Cakrapolis Eksplorasi tidak terasa seperti tiruan karya luar negeri. Ia berdiri di atas fondasi budaya sendiri, dan itu menjadi nilai penting dalam konteks perkembangan komik Indonesia yang masih mencari bentuk tetapnya di antara pengaruh global.
Relevansi dan Posisi dalam Komik Indonesia
Kehadiran Cakrapolis Eksplorasi juga menandai bahwa ada kesinambungan antara generasi komikus Indonesia. Andris Halim, yang membangun karakter dan dunia Cakrapolis lebih dari satu dekade lalu, kini melihat karyanya diteruskan oleh komikus baru tanpa kehilangan semangatnya.
Dengan rilis cetakan kedua pada 17 November 2025, komik ini memperlihatkan minat pembaca yang cukup baik. Ia tidak sekadar proyek nostalgia, tetapi usaha nyata untuk menjaga warisan komik nasional tetap hidup. Cakrapolis pernah menjadi representasi Indonesia di Frankfurt Book Fair dan Xiamen Animation Festival, dan dengan versi Eksplorasi, potensinya untuk dikenalkan kembali di pameran internasional tetap terbuka.
Dalam peta komik Indonesia, Cakrapolis Eksplorasi menempati posisi unik. Ia bukan karya yang muncul dari penerbit besar dengan promosi besar-besaran, tetapi karya yang bertahan karena ketulusan pembuatnya dan hubungan langsung dengan pembaca. Format hitam putihnya justru menambah kekuatan, karena menekankan keaslian gambar tangan dan ekspresi tinta yang jarang dijumpai di era digital berwarna.
Kesimpulan: Bentuk Baru, Jiwa yang Sama
Cakrapolis Eksplorasi (2025) adalah contoh bagaimana sebuah karya bisa berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Ceritanya tetap berpegang pada tema lama, tetapi disajikan dengan cara yang lebih matang. PapaPhin tidak mengubah esensi yang dibangun Andris Halim, melainkan memperluas ruang visualnya agar lebih mudah dinikmati oleh pembaca masa kini.
Gaya hitam putih yang dipertahankan memberi identitas kuat pada komik ini. Tidak ada warna, tetapi kontras antar bidang menciptakan kedalaman yang cukup untuk menghadirkan suasana. Dengan tata panel yang lebih bebas, gaya arsiran yang tegas, dan keseimbangan antara detail dan ruang kosong, Cakrapolis Eksplorasi menjadi contoh baik dari bagaimana komik Indonesia bisa berkembang secara teknis tanpa meninggalkan akar lokalnya.
Bagi pembaca baru, komik ini menawarkan pintu masuk ke dunia superhero Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Bagi pembaca lama, ia menjadi pengingat bahwa dunia Cakrapolis belum berakhir. Energi yang dulu muncul di halaman surat kabar kini hidup kembali dalam bentuk yang lebih kokoh.

Sebagai karya cetak hitam putih, Cakrapolis Eksplorasi membuktikan bahwa kekuatan visual tidak bergantung pada warna, melainkan pada arah garis, cahaya, dan ketepatan ritme. Semua unsur itu dikelola dengan baik oleh PapaPhin untuk menjaga semangat asli Cakrapolis yang diciptakan Andris Halim.Karya ini menjadi bukti bahwa komik Indonesia bisa terus hidup jika ada kesinambungan antara generasi kreatornya. Cakrapolis Eksplorasi adalah karya yang jujur terhadap asalnya, realistis dalam penyajiannya, dan relevan dengan konteks masa kini.

