Di tahun 2014 silam, mentor menulis yang juga sahabat sekaligus rekan kerja terbaik saya, almarhum Mohammad Fahmi pernah menulis kolom opini menarik seputar perdebatan klasik yang masih saya anggap relevan terus hingga sekarang: apakah beli game bekas (second-hand) secara moral dan finansial setara dengan aksi pembajakan game?
Opini tajam yang ditulis oleh kreator game Coffee Talk dan Afterlove EP tersebut menyoroti fenomena ini dengan analogi yang provokatif, yakni dari sudut pandang pembukuan finansial developer itu sendiri, di mana kepingan game bekas yang dibeli di mana pun, faktanya tidak menyumbangkan satu rupiah pun ke kantong mereka. Saya sendiri masih ingat jelas bagaimana artikel ini ramai jadi perbincangan dan beberapa tahun lalu sempat kembali dibicarakan ulang, setelah orangnya pun sudah tidak aktif lagi di dunia penulisan.
Argumen beli game bekas = membajak mungkin terdengar ekstrem bagi konsumen yang seringkali merasa memiliki hak penuh atas barang yang mereka beli, apalagi untuk konsumen Indonesia yang notabene selalu dibalut ego “Pembeli adalah raja”.
Namun tidak bisa dipungkiri jika apa yang terjadi dengan model distribusi game kita di era sekarang, merupakan imbas dari debat kusir panjang yang muncul lebih dari satu dekade lalu.
Paradox kolektor yang juga jadi basis konsumen game bekas

Inti dari argumen almarhum Fahmi bahwa “Bekas = Bajakan” sendiri adalah aliran uang. Ketika kamu membeli game baru (yang masih tersegel rapi dari etalase toko), sebagian uang tadi jelas akan masuk ke publisher dan mengalir ke dompet developer. Namun, ketika kamu membeli game bekas, 100% keuntungan penjualan tadi masuk ke pengecer atau penjual tangan kedua.
Realita hitung-hitungan matematika yang menyakitkan ini kerap diabaikan oleh sebagian besar gamer Indonesia, dan tak jarang saya pun juga pernah mendapati topik serupa dan sempat berdebat pula dengan mereka di media sosial.
Ironi perdebatan ini dulu sering terdengar di kalangan komunitas kolektor game retro. Fahmi dalam artikel opininya pernah mencontohkan kasus Suikoden II, game langka yang saat itu bisa terjual dengan harga jutaan rupiah di pasar bekas.
Pembeli mungkin merasa bangga memiliki copy “legal” dan merasa lebih mulia daripada mereka yang mengunduh ISO bajakan Suikoden II untuk dimainkan lagi di emulator. Namun, realitas pahitnya adalah Konami atau kreator aslinya tidak mendapatkan sepeser pun dari transaksi jutaan rupiah tersebut. Kasarnya dalam konteks dukungan finansial terhadap kreator, membeli game bekas mahal hanyalah “pembajakan dengan resi pembelian” pakai banyak uang si kolektor.
Sentimen beli game bekas = bajakan tadi mirip dengan pernyataan kontroversial Mike West, desainer dari Lionhead Studios (kreator seri Fable). West pernah menyatakan ke Gamespot bahwa penjualan game bekas di console sebenarnya lebih merugikan perusahaan dibandingkan pembajakan di PC. Logika sederhana West kurang lebih sama: pembajak mungkin tidak akan pernah membeli game tersebut, tetapi pembeli barang bekas adalah konsumen yang bersedia mengeluarkan uang, hanya saja uang itu tidak sampai ke pembuat karya alias sang developer itu sendiri.
Yang menarik, opini West saat itu mendorong editorial Gamespot untuk menulis kolom opini tandingan, di mana mereka menyalahkan pihak publisher dan menganggap konsumen dan developer seharusnya bukan pihak yang “diadu domba” atas aksi debat kusir ini. Well, opini yang menurut saya jauh dari intisari awal konteks yang West debatkan.
Imbasnya sekarang: game fisik original yang baru makin berkurang, game digital di mana-mana

Tak terasa satu dekade sudah artikel opini beli game bekas = bajakan diterbitkan, dan boleh saya bilang saat ini kondisinya sudah sangat berbeda. Ada harga mahal yang harus dibayar konsumen atas perdebatan jual beli game bekas satu dekade silam, yaitu hilangnya hak atas kepemilikan game yang kita beli.
Yes, betul. Industri game akhirnya merespons ancaman jual beli game bekas bukan melarang penjualannya lagi, melainkan dengan mematikannya secara perlahan lewat dominasi distribusi game secara digital di berbagai lini.
Di era modern, dominasi digital store seperti Steam, PlayStation Store, dan layanan cloud streaming telah mengubah kepemilikan menjadi lisensi yang tidak dapat dipindahtangankan. Langkah ini efektif “membunuh” pasar game modern bekas bagi mayoritas gamer PC dan juga semakin menekan industri game console untuk menghentikan penjualan console dengan Disk Drive. Tidak percaya? Coba kamu perhatikan apa yang dilakukan PlayStation terhadap PS5 Pro dan juga pelajari bagaimana sistem game-key cards Nintendo Switch 2 bekerja.
Saya sebagai pemilik Xbox Series X sendiri juga mengeluhkan betapa minim dan mahalnya jumlah disk game fisik yang tersedia di sekitar saya. Microsoft yang sukses membuat orang tersihir dengan model bisnis berlangganan Xbox Game Pass juga bisa dibilang pelit untuk urusan menerbitkan game fisik sepanjang empat atau lima tahun belakangan ini.
Dengan mendorong konsumen ke arah digital dan console tanpa disc drive, industri secara perlahan menghapus hak konsumen untuk menjual kembali properti mereka—sebuah hak yang selama ini menjadi tameng moral pasar barang bekas.
Closure
Lantas, di mana kita harus berdiri dalam perdebatan ini sekarang? Apakah sekarang membeli kaset bekas menjadikan kita “penjahat” yang membunuh kreativitas developer? Jawabannya tentu tidak akan sesederhana itu.
Kita harus mengakui bahwa tidak ada penjahat tunggal dalam ekosistem ini. Debat kusir soal “Beli game bekas = Bajakan” sendiri menurut saya adalah cerminan dari industri yang saat itu sedang mencari keseimbangan, bahkan hingga saat ini. Sebagai konsumen cerdas, kita semua bisa mengambil jalan tengah dengan kapasitas dan kemampuan dompet yang kita punya.
Dukunglah developer favoritmu dengan membeli game baru atau digital, terutama untuk judul indie atau niche yang sangat bergantung pada setiap copy penjualan. Namun, jangan merasa bersalah jika kamu sesekali harus berburu di pasar bekas untuk judul-judul AAA lama atau barang langka di luar sana.
Pada akhirnya, semua yang terpenting adalah bentuk apresiasi terhadap karya tersebut. Baik melalui struk pembelian baru maupun transaksi barang bekas, tujuannya yang penting tetap satu: menikmati seni interaktif yang kita cintai ini agar tetap hidup, dan berdoa semoga uangnya juga sampai menghidupi kreativitas orang-orang yang terlibat di belakangnya.


